Sekretaris BRMP: Ingatkan Hasil yang Lebih User Friendly dan Plug and Play
Bogor (30/9) – Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Handi Arief, ST., M.A.P pagi ini kembali berkesempatan memberikan arahan dan membuka ‘Agri IPR Talks Seri ke-4 bertema ‘Paten: from invention to protection’ yang dilaksanakan dari BRMP Sulawesi Selatan. Kegiatan ini sekaligus juga untuk mengakomodir potensi hasil berpelindungan kekayaan intelektual dari kegiatan yang bersumber dari dana kemitraan dengan mitra kerja sama Universitas Negeri Makassar. Disebutkan dalam arahannya, salah satunya mengenai hasil kegiatan/program yang seharusnya tidak hanya berhenti pada pelaporan sebagai output kegiatan, akan tetapi juga berdampak luas dan mendatangkan value yang lebih lagi. Sebagaimana penekanan ini diungkapkan Sesba sering menjadi poin pertanyaan dari BPK, demikian jelas Handi.
Butir arahan lainnya dari Bapak Sesba disebutkan ada 5 hal yang dirasa penting dalam mendukung pelaksanaan tusi ke depan yang saling bersinergi, yakni 1) berkaitan dengan hasil teknologi yang user friendly dan Plug and Play atau ramah terhadap pengguna dan siap pakai; 2) berikutnya mengenai pengelolaan hasil kegiatan harus ditelusuri dari hulu ke hilir, tidak boleh berhenti hanya pada laporan akhir dan harus mencapai outcome dan impact, termasuk potensi royalti; 3) lalu mengenai klausul kepemilikan teknologi yang wajib ditetapkan sejak awal perjanjian kerja sama (MoU/PKS) untuk menghindari sengketa kepemilikan di kemudian hari; 4) selanjutnya koordinasi dengan UPT perlu diperkuat agar setiap kegiatan yang berpotensi menghasilkan teknologi masuk dalam sistem pengelolaan hasil terintegrasi; dan 5) terakhir agar BRMP PH melakukan evaluasi hasil peserta IPR Talk dari sejak seri pertama dan dapat dilaksanakan pada November–Desember untuk mengukur outcome nyata dari kegiatan sosialisasi, jelas Sesba yang menyadari bahwa kegiatan ini adalah ilmu baru baginya.
Rangkaian Agri IPR Talks yang sudah dilaksanakan sejak Juli hingga akhir September ini disebutkan Nuning merupakan kegiatan tandem dan series yang berlanjut. Kegiatan ini juga implementasi dari arahan Bapak Sesba untuk mulai jemput bola mengidentifikasi potensi-potensi hasil yang bernilai dampak, bahkan hingga dapat bernilai ekonomi atas royalti yang diperolehnya, jelas Nuning. Seri ke-4 kali ini akan mengajarkan praktik langsung penyusunan spesifikasi paten menggunakan studi kasus teknologi biokonversi limbah organik berbasis Black Soldier Fly (BSF) dari kerja sama BRMP dengan Universitas Negeri Makassar. Narasumber Pemeriksa Paten Ahli Madya Ibu Rr. Tita Trias Aryanti, STP., MH. menjelaskan pentingnya memahami sejak awal bedanya invensi dan discovery, termasuk apa itu klaim dari suatu paten.
Di awal sempat dijelaskan secara sepintas kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Makassar dalam menjawab permasalahan di masyarakat sehingga kemudian diperoleh hasil-hasil yang bervariasi guna dan peruntukannya, jelas Prof. Dr. Adnan, M.Si. Berkaitan dengan menjawab permasalahan ini, disebutkan Nuning sangat relevan dengan apa yang saat ini menjadi tusi dari seluruh satker dilingkup BRMP yang berkaitan dengan pendayagunaan hasil, penyebarluasan hasil dan di BRMP PH sendiri yang spesifik kepada pengelolaan dan pemanfaatan hasil, jelas Nuning.
Dari kegiatan IPR Talks Seri ke-4 yang sempat dihadiri secara daring oleh lebih dari 114 orang diperoleh setidaknya beberapa pertanyaan berkaitan dengan proses bagaimana paten tidak saling menggugurkan keinginan untuk melakukan perlindungan dan publikasi, termasuk untuk membangun kembali pengembangan lanjutan dari paten-paten yang dimiliki Balitbangtan saat ini yang sudah memasuki public domain, agar tentunya dapat lebih menjawab permasalahan saat ini di masyarakat, jelas Tita.
Di akhir kegiatan, narasumber mempersilahkan peserta untuk menanyakan kembali via WA apabila ada yang perlu konsultasi dan juga disepakati untuk pelengkapan dokumen, maka Tim Universitas Negeri Makassar akan menyusun dokumen dengan pendampingan dari BRMP Pengelola Hasil, jelas Jayu, SE.Ak., MBA selaku moderator pada sepanjang kegiatan IPR Talk Seri ke-4 ini.