BRMP PH: Identifikasi Fasilitasi Kegiatan Pengembangan Platform ICARE
Biringkanaya (21/8) – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan (BRMP Sulsel) melakukan diskusi dengan Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH) sebagaimana diskusi ini memang dimohonkan oleh BRMP PH guna memetakan fasilitasi yang akan dilakukan untuk kegiatan subkomponen A.1.D: Pengembangan Platform Pemangku Kepentingan Publik-Swasta (Public Private Partnership) ICARE. Saat menjelaskan maksud dan tujuan diskusi, Nuning yang hadir bersama kedua Tim Kerjanya menyampaikan bahwa hari ini pihaknya akan ‘belanja kebutuhan’ untuk identifikasi fasilitasi yang dapat di BRMP PH. Kata kuncinya satu, bahwa agar kegiatan ini tidak ‘tumpang tindih’. Apalagi disadari bahwa hampir semua Satker memiliki lokus kegiatan yang sama dari berbagai skema pembiayaan misalnya dari Competitive Grant (CG), dari Matching Grant (MG), Klinik Mobilisasi Pertanian (KMP) dan juga dari kegiatan yang didanai PIU ICARE Sulsel juga, jelas Nuning.
Nuning mengingatkan bahwa sebagaimana Balai ini saat ini sudah menjadi Balai Besar Penerapan, maka sebaiknya dilakukan juga analisa yang menjadi gap dari berbagai invensi yang diterapkan di lapangan, sehingga adopsinya menjadi lebih baik lagi, tambah Nuning. Tim BRMP PH yang diterima oleh Pj PIU ICARE Sulsel Dr. Ir. Rika Haryani, M.Si. dan Ir. Yusuf, M.Si. yang menjadi pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa saat ini semua kegiatan di lokus belum terorkrestrasi sebagaimana diharapkan dapat memperluas lokus. Apalagi Sulsel memiliki 4 target komoditas yaitu sapi potong, kentang, padi, dan terakhir ayam KUB, jelas Dr. Rika.
Di area lokasi saat ini sudah ada setidaknya 3 koperasi dan akan ditumbuhkan dan juga 2 koperasi pendukung yang memperkaya unit bisnis di kawasan. Unit bisnis yang sudah berjalan adalah budidaya kentang sayur Granola L dan Granola K dan sapi potong yang dilakukan secara bergulir untuk anggota koperasi, jelasnya. Dari diskusi ini setidaknya telah tersampaikan minimal ada beberapa kebutuhan seperti pentingnya menyusun SOP Budidaya Kentang, SOP Perguliran Ternak Sapi, sampai penanganan limbahnya. Karena diungkapkan juga adanya pembuatan pupuk dari limbah sayur dan pembuatan pakan ternak berupa konsentrat dari formulasi khusus. Potensi keduanya bahkan dimungkinkan untuk disusun formulasinya dan memungkinkan memperoleh perlindungan KI tentunya apabila diketahui ada nilai novelty atau kebaruannya, jelas Jayu, SE.Ak., MBA menambahkan.
Jayu juga menambahkan dari kunjungan hari ini juga dilakukan untuk identifikasi product display dari prototype yang perlu disiapkan, jelasnya. Apabila sudah diperoleh prototype BRMP PH juga akan membantu proses PIRT, kemasan, bahkan hingga product knowledge, tambahnya. Upaya ‘jemput bola’ ini disadari menjadi upaya proaktif agar identifikasi perlindungan KI dapat dilakukan sejak awal perencanaan kegiatan, tidak hanya sebagai hasil sampingan. Termasuk spesifiknya penerapan yang dilakukan oleh BRMP Sulsel perlu juga disusun dalam identifikasi dan rencana penerapan modernisasi tidak saja pendampingan adopsi teknologi di kawasan ICARE yang akan menjadi lokus modernisasi mewakili 4 target komoditas, jelas Yusuf, M.Si.
Ia meyakini dengan identifikasi secara bersama ini dapat saling berkesinambungan dengan yang dilakukan oleh seluruh Satker dan akan saling mendorong pencapaian PDO dari PIU Sulsel, tambah Yusuf. Diakhir, Yusuf menyampaikan bahwa perlu juga dilakukan diskusi langsung di lokasi koperasi, sehingga konfirmasi dari hasil diskusi hari ini bersama PIU dapat diperoleh. Beberapa informasi calon produk dan fasilitasi kegiatan yang diperlukan dari BRMP PH, tutup Nuning