BRMP PH sampaikan Ide Penguatan Literasi: Warisan Budaya Kota Bogor
Bogor (27/7) – Kotamadya Bogor memiliki Perpustakaan yang sudah terakreditasi, berkesempatan berkunjung ke Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH). Diterima oleh Kepala Balai dalam suasana santai, tim perpustakaan didampingi oleh Bapak Muhammad Yaffies selaku Kepala Bidang Perpustakaan, Ibu Siti Juniasih, dan Bapak Edy Suryanto, di Ruang Baca dan PPID Pelaksana.
Disampaikan oleh Edy maksud kedatangan adalah untuk saling berbagi informasi terutama atas upaya Balai dalam mendorong Perpustakaan mendapatkan akreditasi. Nuning Nugrahani, Kepala BRMP PH menjelaskan bahwa dalam kondisi efisiensi anggaran, Perpustakaan didorong untuk terakreditasi guna meningkatkan kualitas perpustakaan. Hal ini didasarkan pada kekhususan Balainya yang memiliki seluruh dokumen paten dan juga dokumen perlindungan Kekayaan Intelektual lainnya yang merupakan hasil dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Nuning memperjelas bahwa Perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan tacit knowledge tapi juga berkaitan dengan literasi serta pelestarian warisan budaya atau bahkan juga cerita dari mulut ke mulut, jelasnya. Ia mengusulkan untuk memperkaya literasi dapat dimulai dengan pendataaan dan identifikasi warisan-warisan budaya dari Kota Bogor. Mulai dari yang sisinya pertanian seperti talas bogor, kacang bogor, bahkan sampai ke batik bogor dan kekayaan pariwisata lainnya. Hal ini memberi peluang pengelolaan terintegrasi seperti dilakukan oleh Pemerintahan Bali dengan Subaknya hingga menumbuhkan potensi ekonomi yang kembali ke komunitasnya, jelasnya.
Menangkap hal ini, Edy menyampaikan hal yang memang perlu dijadikan inisiasi kegiatan di kantornya atau dengan pelibatan Bapperida Kota Bogor juga, jelasnya. Warisan budaya sebaiknya mulai didata dahulu misal dengan pelibatan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya, hasil pendataan ini akan menjadi tonggak pengetahuan tertulis dan penguatan literasi. Ide Nuning menulis 50 Warisan Budaya Bogor bisa dituliskan menjadi buku dan kekayaan budaya yang tertulis untuk generasi anak cucu nanti. Nuning bahkan mengajak untuk bisa nanti dilakukan pendampingan jika berkaitan dengan komoditas pertanian, karena semua komoditas bisa saja ada miripnya. Namun ketika ditanam dengan iklim dan ketinggian berbeda maka akan berbeda juga karakternya. Bahkan Yaffies menyebutkan yang disebut dengan Durian Rancamaya itu ciri biji dan rasanya berbeda, termasuk alpukat Miki.
Diskusi asyik ini kemudian dilengkapi dengan mengunjungi fasilitas perpustakaan, kids corner, dan ruang roll opack tempat dokumen asli koleksi paten disimpan, termasuk ke fasilitas lain hingga ruang co-working space yang juga dilengkapi dengan fasilitas membaca di ruang terbuka. Diakhir kunjungan dilakukan penyerahan buku 600 Teknologi Inovatif Pertanian sebagai upaya yang mendorong Perpustakaan Kota Bogor untuk menambahkan koleksi bacaan teknologi pertanian, tutup Nuning dan diterima dengan senang hati oleh Yaffies.