Koperasi LLP Kedungneng Butuh Dukungan Penguatan Unit Bisnis
Kedungneng (10/9) – Koperasi Langgeng Lumbung Pangan (LLP) Kedungneng di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes menjadi salah satu lokus pengembangan bisnis melalui kegiatan ICARE. Koperasi ini berdiri setelah sebelumnya, pada tahun 2022, memperoleh bantuan pembangunan bangsal pascapanen dari Ditjen Hortikultura.
Saat ini, Koperasi LLP Kedungneng memiliki 2 unit bisnis yaitu perbenihan padi dan olahan pisang. Dari informasi Ibu Puni selaku manajer Koperasi bahwa unit pengolahan pisangnya unit pengolahan pisang telah mendapatkan sejumlah pembinaan dan mengembangkan produk keripik pisang berbahan baku pisang Raja Nangka yang memang dibudidayakan oleh masyarakat di Desa Kedungneng. Selain keripik, koperasi juga mengembangkan produk tepung pisang. Namun, untuk produk tepung tersebut, pihaknya menyebutkan adanya kebutuhan screenhouse atau teknologi yang mendukung pengeringan agar tidak ada kontaminasi selama proses penjemuran, tambahnya.
Unit bisnis ini sudah berjalan diperiode Covid dan memiliki merek produk Kripik Rejeh. amun, perubahan penggunaan lahan dari pertanaman pisang menjadi tanaman padi menyebabkan pasokan bahan baku pisang mengalami gangguan. Kondisi tersebut kemudian mendorong koperasi untuk mengembangkan unit bisnis lainnya, yaitu penangkaran benih padi Inpari 49, sebagaimana kegiatan ini berasal dari Competitive Grant BRMP Padi pada tahun 2025.
Unit perbenihan saat ini sudah berjalan dan kondisinya sedang mempersiapkan pengemasan, ungkap Wakro selaku Fasilitator Lapang Program ICARE Jateng. Pembenahan disisi pengemasan diungkap Wakro masih memerlukan sejumlah masukan. Dari informasi yang diungkapkan, Nuning Nugrahani, Kepala Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH), menyampaikan bahwa pengemasan yang sudah dipersiapkan memang membutuhkan beberapa catatan perbaikan. Ia menyebutkan hampir di semua Lokasi yang telah dilakukan fasilitasi, banyak di antaranya yang belum mencantumkan product knowledge dengan baik untuk konsumennya, jelasnya.Perbaikan kemasan juga diperlukan untuk produk kripik pisang, kripik taro, tepung pisang, dan juga produk food brush yang dibuat dari serat pisang.
BRMP PH menyampaikan bahwa Jateng sebagai lokasi yang dikunjungi paling akhir dari pelaksanaan kegiatan identifikasi fasilitasi kegiatan Subkomponen A1D memang membutuhkan masukan langsung di lokus kegiatan. Dijelaskannya bahwa BRMP PH memiliki amanah untuk memberikan fasilitasi terkait berbagai produk yang dihasilkan melalui kegiatan ICARE. Namun, daftar produk tersebut belum dimiliki di PMU. Daftar tersebut dinilai penting karena akan memudahkan untuk difasilitasinya penyediaan prototype produk, walaupun penganggarannya masih blokir, ungkap Nuning.
Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan hari ini, Nuning menyebutkan bahwa fasilitasi dari BRMP PH diharapkan berbeda dari yang diperoleh dari skema pendanaan ICARE lainnya dan juga dari PIU Jateng. Fokus fasilitasi diantaranya adalah pendampingan penyiapan kemasan, pendaftaran merek, dan pendaftaran paten apabila ada.
Penyusunan layout bangsal produksi kripik, menurut Nuning juga penting dilakukan disamping penyusunan SOP-SOP untuk beberapa tahapan produk, mulai sejak mengupas, mengiris, mengolah, hingga mengemas. enurut Nuning, hal serupa telah dilakukan di PIU lainnya. Oleh karenanya, dengan penganggaran yang tidak banyak dari BRMP PH, maka pemilahan fasilitasi perlu dilakukan oleh PIU Jateng.
‘Belanja kebutuhan’ dari yang dilakukan ke PIU lain, biasanya dilakukan dengan Tim Program BRMP Provinsi terlebih dahulu, jelas Morina Pasaribu. Karena diperiode bahwa BRMP Provinsi memiliki tusi utama dalam penerapan modernisasi, maka SOP-SOP dari kegiatan ICARE akan menjadi salah satu output di penerapan modernisasi untuk produk dan juga bagian dari output proyek berupa knowledge management di Komponen C.
Ketua PIU Jateng, Aryana Citra Kusumasari, S.Si., M.P., yang hadir pada akhir diskusi, menyampaikan bahwa pada periode ini, PIU juga akan memfasilitasi dengan pelaksanaan pengujian produk untuk mengetahui kandungan nutrisi produk olahan dan penyediaan dana kemasannya, tambahnya. Berbeda dari PIU lain, bahwa penyediaan bahan baku menjadi kendala pengembangan bisnis akibat adanya pengalihan lahan budi daya pisang ke budi daya padi. Oleh karena itu, diperlukan penambahan unit bisnis padi yang lebih siap, guna menopang produk pisangnya, termasuk juga menambah unit bisnis lain. Aryana menyarankan agar koperasi dapat mendorong anggotanya untuk pemanfaatan lahan pekarangan sebagai pertanaman pisang.
Adapun unit bisnis lain yang akan disiapkan berupa UPJA mesin panen padi, penyewaan RMU, dan juga penyediaan screenhouse untuk pengolahan produk tepung ke depannya sebut Wakro. Pengembangan unit-unit bisnis tersebut diharapkan dapat saling menopang sehingga Koperasi LLP Kedungneng memiliki model bisnis yang lebih beragam, berkelanjutan, dan mampu memperkuat nilai tambah produk yang dihasilkan melalui kegiatan ICARE, demikian tutup Nuning.