PIU ICARE Sultra Lakukan Identifikasi Prioritas Platform Pemangku Kepentingan
Puuwatu (26/8) – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tenggara melaksanakan penyusunan prioritas mendukung pencapaian kegiatan pada subkomponen A.1.D Pengembangan Platform Pemangku Kepentingan Publik-Swasta (Public Private Partnership) ICARE. Penyusunan prioritas kegiatan darri sejak identifikasi kendala, masalah, dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam 4 bulan ke depan di PIU Sultra ini dibantu oleh Tim Konsultan Agribisnis PMU ICARE yang tahun ini akan membantu di wilayah Sultra dan Sulut. Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian yang juga berkesempatan hadir pada pertemuan tersebut dan sebelumnya melakukan audiensi dengan Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tenggara Dr. Kamri Alwi di ruang kerjanya menyampaikan bahwa BRMP Sultra saat ini mendapatkan penugasan yang cukup banyak. Beberapa Satker saat ini sudah mulai melaksanakan kegiatan pada satu lokus yang sama, yaitu: BB Pascapanen, BB Veteriner, BRMP Pengelola Hasil, Sekretariat BRMP dan konsultan agribisnis ICARE. Namun demikian, kegiatan akan tetap berjalan dalam fasilitasi BRMP Sultra dan tidak hanya PIU saja. Kondisi buka blokir yang bersamaan, menurut Kamri juga akan banyaknya kegiatan di lokus yang sama akan menjadi kegiata harian disamping mandatori lainnya berkaitan dengan LTT, Banper, dan kegiatan lain menjadi bagian yang dikerjakan BRMP Sultra.
Saat audiensi Nuning Nugrahani, menyampaikan niat Balainya dalam kegiatan hingga hari Jumat mendatang berkaitan dengan melakukan identifikasi kebutuhan fasilitasi PIU Sultra, melakukan identifikasi perlindungan KI dari hasil kegiatan reguler dan kegiatan pendanaan ICARE, dan melakukan identifikasi produk dari kegiatan ICARE yang dapat menjadi display produk atas inisiasi penyediaan BRMP Mart di Jakarta dan Bogor. Balai PH menyadari kemungkinan akan tumpang tindihnya pelaksanaan kegiatan, dan PIU tetap perlu mengorkrestasi di lokus nanti. Informasi dari Laporan 2025 yang dibacanya, menyebutkan bahwa kebutuhan PIU Sultra adalah menguatkan kelembagaan Koperasi. Namun, demikian esensi penguatan kelembagaan yang difasilitasi dari pendanaan CG dari BRMP Sistem baru mewadahi 1 komoditas saja, yaitu kakao. Oleh karenanya, perlu bagi PIU memilah dan memilih kegiatan yang mana yang dibutuhkann oleh lokus kegiatannya dalam waktu ini hingga berakhirnya Program ICARE di tahun 2027.
Di saat diskusi dengan seluruh Tim PIU dengan Tim Konsultan Agribisnis Donnie Aqsha, S.P, M.Si dan Muh. Syahwan Ode, M.A.P dapat disusun matrik rencana kegiatan dalam 4 bulan ke depan sesuai dengan 4 Koperasi yang menjadi mitra PIU. Prioritas yang utama dan paling dibutuhkan dari masing-masing Koperasi termasuk memfasilitasinya dalam waktu dekat dengan pertimbangan kontribusi yang besar atas fasilitasi tersebut, akan menjadi peringkat pertama pekerjaan dalam minggu ini, jelas Assayuthi Ma’suf, SP, MP. Selaku Penjab PIU yang merangkap sebagai Koordinator Monitoring dan Evaluasi Program ICARE Sultra. Balai PH menyampaikan bahwa apa yang menjadi rencana dari business canva model di awal dulu sebaiknya dilihat Kembali, sehingga prioritas utama yang sudah diidentifikasi sebelumnya dapat dilaksanakan. La Wangi, MPt memberikan pandangan bahwa dari Koperasi sudah menyatakan kebutuhan untuk penyediaan Tempat Pemotongan Hewan (TPH) dan dahulu sudah disediakan tempatnya, namun kemudian tidak ada aktifitas kembali. Oleh karenanya, mempertimbangkan pengembangan dan prospek bisnis dari saat ini sebaiknya dapat disusun rencana pengusulan TPH Kembali dari Dinas terkait, tentunya dengan pendampingan Tim Konsultan dan PIU ICARE Sultra.
Hingga akhir Tim PIU menyampaikan apresiasi dan terima kasih karena lokasinya mendapatkan banyak bantuan pemikiran dan saat ini Ia bisa melihat keterkaitan antar pelaksana kegiatan dari berbagai skema kegiatan sejak dari CG, MG dan Tim Konsultan tentunya dalam mendorong pencapaian PDO yang harus dipenuhinya, demikian tutup Assayuthi.