Tingkatkan Produktivitas Padi, BRMP PH Bersama Dinas TPH Kab Cianjur Rencanakan Implementasi PM-AAS
Cianjur (6/7) – Sejalan dengan tugas pendampingan program Swasembada Pangan termasuk didalamnya Luas Tambah Tanam (LTT), Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH) lakukan upaya mematangkan rencana implementasi program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) untuk mendongkrak produktivitas padi di wilayah Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Cianjur dan Bekasi. Kali ini dilakukan diskusi terkait 2 topik penting dengan Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinas TPH) Kab. Cianjur, Dandan Hendayana, S.P., M.P. Program yang diharapkan dapat mulai berjalan pada akhir Juli 2026 ini mengusung konsep mekanisasi dan teknologi benih unggul untuk mencapai hasil panen yang maksimal.
Sesuai arahan Menteri Pertanian bahwa diperlukan transformasi teknologi melalui PM-AAS yang merupakan sistem budi daya padi modern mengacu pada penggunaan benih berkualitas tinggi (hibrida dan inbrida) dengan populasi tanaman yang padat. Berbeda dengan cara tanam konvensional, PM-AAS menggunakan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan jarak tanam rapat untuk mengejar populasi hingga 800 ribu-1 juta rumpun per hektar, jelas Nuning Nugrahani, Kepala BRMP PH. Selain dengan pendekatan penggunaan benih, akan ada aplikasi silika untuk mencegah tanaman rebah akibat populasi yang padat, lanjut Nuning.
Dalam koordinasi dengan Dinas TPH Kab Cianjur, Jayu, S.E., Ak., M.B.A selaku Tim Kerja Program dan Evaluasi juga menyampaikan adanya rencana untuk menyiapkan demplot seluas 5 hektar, termasuk di dalamnya selain untuk penerapan sistem PM-AAS dengan benih padi inbrida juga 1 hektar khusus untuk uji varietas padi hibrida hasil inovasi BRMP.
Lokasi yang dibidik sesuai dan irigasi yang memadai arahan Pak Kabid TP berada di Kecamatan Bojong Picung dan Ciranjang, dengan pertimbangan dukungan irigasi yang stabil (settle). Koordinator Penyuluh (Korluh) Bojong Picung, Bu Rina, menyatakan kesiapannya untuk mengidentifikasi kelompok tani dengan tingkat adopsi teknologi yang tinggi guna mendukung keberhasilan program ini.
Selain fokus pada budi daya PM-AAS, Kepala BRMP PH juga mengingatkan tindak lanjut yang perlu dilaksanakan pasca dilakukan identifikasi dan mitigasi kekeringan berkenaan dengan infrastruktur irigasi. Disebut Nuning, apabila perlu dilakukan pemetaan menggunakan drone untuk mendapatkan helicopter view luasan sebagai persyaratan dalam pengusulan pada aplikasi Sistem Informasi Program Usulan Irigasi (Sipuri) Tahap II nanti guna memantau titik krusial saluran irigasi di Kabupaten Cianjur yang memerlukan penanganan, seperti normalisasi dan perbaikan pintu air, jelas Nuning. Ini perlu ditindaklanjuti bersama Bidang PSP Dinas TPH Kab. Cianjur karena pada dasarnya akun pengusulan juga bisa dilakukan oleh Dinas.
Harapannya kedua kegiatan upaya penyelesaian mitigasi risiko kekeringan maupun implementasi Program PM-AAS ini bisa berjalan baik. Petani tidak perlu khawatir karena merujuk pada keberhasilan implementasi serupa di Sulawesi Selatan dan Gorontalo saat PENAS, bahwa penerapan metode ini telah menunjukkan adanya peningkatan produktivitas yang signifikan. Oleh karena itu, dengan sinergi antara pusat dan daerah, diharapkan petani di Jawa Barat dapat segera mengadopsi teknologi ini untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional, tutup Nuning.