BRMP Serealia: Identifikasi Hasil Pelindungan KI Hasil Perakitan
Maros (20/8) – Diskusi identifikasi output produk berpotensi Pelindungan KI dan ketersediaan materi genetik tetua jagung hibrida dilakukan bersama Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP Pengelola Hasil) bersama Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Serealia (BRMP Serealia), Sarjoni, MP dan diikuti dengan Tim Kerja Layanan Kesesuaian Fauziah Koes, S.P., M.P. dan Tim. Pelaksanaan diskusi yang sejak beberapa waktu diinisiasi BRMP PH ini memiliki 2 agenda khusus. Selain membahas penyediaan materi genetik tetua jagung hibrida, diskusi juga difokuskan pada identifikasi hasil-hasil inovasi yang berpotensi memperoleh pelindungan KI, khususnya yang dihasilkan melalui sumber pendanaan APBN maupun ICARE dalam skema Competitive Grant (CG), jelas Nuning membuka diskusi.
CG yang merupakan salah satu skema pembiayaan dari Program ICARE memang memungkinkan bagi Satker untuk melakukan pelaksanaan perakitan dan di tahun ini di BRMP Serealia disetujui satu kegiatan yang berpotensi memiliki pelindungan KI dan juga ke depan apabila terus dibangun data base yang mendukungnya bisa menjadi salah satu kemudahan bagi mitra pelisensi dalam memastikan mutu benih yang diproduksinya, jelas Annisa Salsabila selaku Penjab kegiatan CG BRMP Serealia. Potensi licensee dari perangkat aplikasi memang belum pernah diterapkan akan tetapi memungkinkan untuk pengguna yang ingin mendapatkan data yang lebih akurat menjadi pelanggan dan dikenakan pembayaran langganan. Analoginya seperti member dalam penggunaan chatgpt, ataupun lainnya. Dan hal ini menjadi hal yang menarik jelas Jayu, selaku Tim Kerja PE BRMP PH terutama membidik tusi pengelolaan dan pemanfaatan hasil yang bahkan jika di Program ICARE dituntut hingga ke tingkat pemanfaatannya atau beneficiriesnya, tambahnya.
Diskusi yang diikuti dengan hangat dan interaktif bersama Kepala BRMP Serealia ini sangat akomodatif terutama di tengah prosedur pelaksanaan penyediaan tetua yang sangat bergantung pada APBN, sementara APBN sendiri juga digunakan untuk penyediaan benih di layanan UPBS guna memenuhi target PNBP. Prosedur pelayanan UPBS di BRMP Serealia sudah terstruktur dengan mempersiapkan kontrak kerja sama, formulir pengajuan, formulir berita acara serah terima dan bahkan survei kepuasan pelanggan, jelas Novia Rahayu, M.Si. Namun, Sarjoni menambahkan akan sangat baik apabila dapat dilakukan dalam satu aplikasi yang memudahkan pengguna varietasnya, tambahnya. Hal ini memang sedang dibangun dan contoh dokumen sangat dibutuhkan untuk melengkapi pengembangan sistemnya, tambah Morina Pasaribu selaku Tim Kerja Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil.
Dari diskusi tersebut diperoleh sejumlah penguatan terkait mekanisme penyediaan benih tetua yang dapat mengadopsi prosedur dari satuan kerja (satker) lain yang telah berpengalaman dalam penyediaan tetua hibrida. Menanggapi hal tersebut, Fauziah Koes menyampaikan perlunya penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang mencakup seluruh tahapan penyediaan, mulai dari persiapan benih tetua hingga benih tersebut diterima oleh mitra. Pertukaran informasi dan keterbukaan dalam membahas prosedur tersebut dinilai penting untuk membangun pemahaman yang sama sekaligus meluruskan asumsi yang kurang tepat terkait pelindungan varietas tanaman (PVT), khususnya anggapan bahwa pelindungan PVT akan membatasi atau “mengunci” varietas yang dibutuhkan masyarakat luas. “Pelindungan PVT bukan berarti mengunci varietas sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, melainkan menjadi instrumen untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mengatur pemanfaatan varietas secara tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tutup Nuning