Kejar Target Swasembada Kab. Cianjur, PJ LTT Tekankan Sinkronisasi Data dan Pendampingan Lapangan
Bogor (24/02/26) – Pemerintah terus memperkuat langkah strategis guna mencapai swasembada pangan berkelanjutan, salah satunya dengan program Luas Tambah Tanam (LTT) melalui kegiatan memperluas areal tanam, memaksimalkan lahan tidur/tadah hujan, serta meningkatkan indeks pertanaman. Sebagaimana Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 166/Kpts/PW.020/M/02/2026, Kepala Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP Pengelola Hasil), Nuning Nugrahani, S.Pt., M.Si., mendapatkan amanah menjadi Penanggungjawab (PJ) LTT untuk 2 Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Salah satu Kabupaten yang dimaksud yakni Kabupaten Cianjur yang tercatat memiliki target luasan 197.991 hektar untuk LTT reguler.
Berkenaan dengan hal ini, melalui zoom meeting, berlangsung perkenalan PJ LTT sekaligus koordinasi perdana bersama Satgas Ketahanan Pangan Kab. Cianjur, di antaranya hadir Perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kab. Cianjur, Katimker Penyuluh, dan 18 Koordinator Penyuluh (Korluh). Disebutkan oleh Abdul Sidik, S.P., M.M. selaku Katimker Penyuluh, bahwa di Kab. Cianjur, Satu Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang dipimpin oleh Korluh, hadir di setiap kecamatan, berbeda dengan kabupaten lain yang 1 BPP-nya ada yang mengakomodir 2-3 kecamatan. Ini menjadi kemudahan bagi Kab. Cianjur dalam koordinasi bersama penyuluh, terutama dalam memvalidasi data terkait LTT di tingkat lapangan, tidak hanya bergantung pada data satelit.
Sebagaimana penugasan Menteri, Nuning mengemban tanggung jawab besar selaku PJ LTT, mulai dari mengoordinasikan pencapaian target swasembada, melakukan pendampingan langsung di lapangan, hingga melaksanakan monitoring dan evaluasi berkala. Laporan perkembangan kegiatan ini wajib disampaikan setiap hari kepada Menteri Pertanian melalui Setjen dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, papar Nuning setelah sesi perkenalan diri.
Dalam koordinasi daring tersebut, terungkap juga bahwa realisasi LTT di Cianjur untuk bulan Februari baru mencapai 5,3% dari target tahunan sebesar 197.991 hektar. Dari target reguler bulan Februari sebesar 10.500 hektar, masih ditemukan selisih data antara laporan dinas dengan data pada sistem e-Pusluh. Secara khusus, terdapat tiga kecamatan yang masuk dalam "zona merah", yaitu Ciranjang, Haurwangi, dan Campaka Mulya, yang diminta segera melakukan penyesuaian input data dengan Dashboard Dinas. Sementara itu, wilayah "zona orange" seperti Cimande, Cikalongkulon, Sukanagara, dan Naringgul. Berkenaan dengan kondisi ini, Nuning mengharapkan seluruh tim dapat melakukan crosscheck data secara intensif dan juga sinkronisasi dalam data e-Pusluh. Sidik menjelaskan bahwa selisih ini disebabkan oleh perbedaan waktu updata data, namun secara umum bisa disinkronkan di akhir bulan.
Bu Elin Tasliah, S.P., perwakilan dari Dinas TPH dan Perkebunan menyampaikan bahwa implementasi LTT sudah menjadi rutinitas dan tiap bulannya secara umum selalu berada di zona hijau, namun, ke depan masih diperlukan beberapa perhatian lebih lanjut, secara khusus terkait pelaporan, baik LTT reguler, Oplah, dan padi gogo.
Selanjutnya, Nuning memberikan apresiasi bagi tim Satgas Pangan di Kab Cianjur dimana konstruksi pelaksanaan LTT-nya sangat terstruktur, bahkan sudah menggunakan sistem informasi berupa leaderboard pelaporan penyuluh sebagaimana yang disampaikan oleh Sidik, bisa menjadi contoh yang baik. Lain halnya, bahwa tugas ini adalah tanggung jawab bersama. Ini bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan menyangkut ketahanan pangan di Cianjur dan seluruh masyarakat Indonesia, tutup Nuning.