Monev Lisensi, Pastikan Kemurnian Galur Ayam KUB-2 di PT Intama Taat Anugerah
Bogor (16/4) – Tim gabungan dari Pusat Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan (BRMP PKH), Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH), Inventor dari BRIN, dan hadir online dari pengampu teknologi Ayam KUB-2 Janaka Agrinak, Balai Perakitan dan Pengujian Unggas dan Aneka Ternak (BRMP UAT), hari ini melakukan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pengembangan ayam KUB-2 Janaka Agrinak di lokasi pemeliharaan/kandang PT Intama Taat Anugerah (ITA). Kegiatan ini bertujuan memastikan kualitas manajemen produksi serta upaya menjaga kemurnian galur ayam unggul hasil inovasi anak bangsa tersebut. Selain itu, kegiatan monev yang dikoordinasi oleh BRMP Pengelola hasil ini untuk menilai kesiapan PT. ITA sebagai mitra lisensi ayam KUB dalam mendukung program prioritas Kementerian Pertanian di berbagai wilayah.
Sebagaimana diketahui, pada tahun anggaran 2026 Kementerian Pertanian menetapkan program prioritas pengembangan Ayam KUB di luar Pulau Jawa, antara lain di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Program ini merupakan bagian dari upaya peningkatan pemerataan produksi unggas nasional dan efisiensi rantai pasok daging ayam, mengingat sekitar 60–65% produksi ayam nasional masih terpusat di Pulau Jawa. Oleh karena itu, penguatan produksi di luar Jawa menjadi langkah strategis untuk mendekatkan sumber produksi dengan wilayah konsumsi.
Agenda kunjungan dimulai dengan pengecekan langsung ke dalam kandang Ayam KUB-2 untuk melihat kondisi populasi Ayam KUB-2 eksisting. Berdasarkan hasil pengamatan, Dr. Tike Sartika selaku inventor utama Ayam KUB menyampaikan bahwa ayam yang dipelihara di PT ITA merupakan galur KUB-2 Janaka Agrinak yang sesuai dengan karakteristiknya. Ia menjelaskan bahwa variasi warna bulu yang muncul, seperti coklat, hitam, putih, hingga dominan merah kecokelatan (buff), merupakan sifat alami ayam kampung, karena seleksi tidak difokuskan pada keseragaman warna bulu. Selain itu, varian warna bulu lainnya yaitu bulu coklat, hitam, ataupun putih yang merupakan karakteristik alami dari ayam kampung. Namun, secara keseluruhan merupakan galur ayam KUB 2 Janaka Agrinak dengan ciri fisik khusus warna kaki yang dominan kuning kuning.
Lebih lanjut, Dr. Tike Sartika menegaskan kembali bahwa pengembangan Ayam KUB 2 Janaka Agrinak merupakan hasil seleksi berkelanjutan dari ayam kampung lokal yang dimulai dari Ayam KUB-1, dengan tujuan menghasilkan galur unggul yang memiliki produktivitas telur lebih tinggi, umur mulai bertelur lebih cepat, pertumbuhan bobot badan yang lebih baik, serta keseragaman performa untuk memenuhi kebutuhan protein dari telur maupun daging ayam. Performa ayam KUB 2 Janaka Agrinak yang dikembangkan PT ITA dinilai sangat bagus dengan kandang yang syang terstandar, serta manajemen pemeliharaan yang sangat baik sehingga untuk indukan ayam berumur 75 minggu yang sudah memasuki tahap diafkir masih bisa menghasilkan telur meski jumlahnya tidak optimal.
Dr. Komarudin, perwakilan BRMP PKH yang juga Inventor dari Ayam KUB-2 ini, menilai bahwa PT ITA telah menerapkan Good Breeding Practices dengan menggunakan sistem kandang tertutup (closed house) dan penerapan biosecurity dengan ketat, Hal itu tercermin dari prosedur yang mewajibkan setiap pengunjung yang akan masuk area kantor bahkan secara khusus ke dalam kandang, harus mandi terlebih dahulu, jelasnya. Disamping itu, perusahaan ini juga telah memiliki sertifikasi bibit sebagai jaminan bahwa produk yang dihasilkan telah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), Hal ini penting untuk memastikan bahwa teknologi yang dilisensikan dapat dirasakan manfaatnya secara optimal oleh masyarakat luas. Ini selaras dengan pernyataan dari Pihak manajemen PT ITA, yang diwakili oleh Pak Siswanto, bahwa sudah menjadi komitmen perusahaan untuk menjaga kualitas di tengah tantangan pasar terkait harga DOC (Day Old Chicken) dan persaingan di lapangan.
Dr. Ir. Andi Saenab, M.Si, selaku Kepala BRMP UAT yang hadir secara daring, mengingatkan bahwa masa kerja sama lisensi Ayam KUB-2Janaka Agrinak akan berakhir pada tahun 2027, sehingga perlu pembahasan lebih lanjut terkait keberlanjutan kerja sala lisensi ini. Menanggapi hal ini, Siswanto selaku perwakilan manajemen PT. ITA menyampaikan bahwa hasil diskusi ini akan dibawa ke tingkat manajemen sebagai bahan pertimbangan untuk perpanjangan lisensi. Namun demikian, pihak perusahaan juga mengharapkan adanya peninjauan ulang terkait besaran royalti, yang saat ini ditetapkan sebesar 1% dari penjualan, dengan mempertimbangkan tingginya tantangan persaingan pasar, termasuk dari pelaku usaha yang memanfaatkan teknologi yang sama secara komersial tanpa melalui mekanisme lisensi.
Dalam kesempatan tersebut, Jayu menyampaikan pesan dari Kepala BRMP Pengelola Hasil, Nuning Nugrahani, bahwa esensi utama dari kerja sama lisensi adalah memastikan pemanfaatan teknologi ayam KUB-2 Janaka Agrinak dapat tersebar secara luas, terukur dan berkelanjutan dalam rangka mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat, dengan tetap menjaga standar mutu yang telah ditetapkan. Pesan lain Kepala Balai, berkaitan dengan upaya membuka mekanisme kerja sama pendayagunaan hasil dan penyebarluasan hasil di luar lisensi akan sangat terbuka, tergantung dari masing-masing Satker.
Selaras dengan tujuan ini, Dr. Tike menyampaikan peluang kerja sama riset lebih lanjut, antara lain melalui pemanfaatan teknologi mutakhir seperti apakah metabolomik dan transkriptomik untuk mengembangkan Ayam KUB Premium ke depan. Adanya Monev ini, diharapkan memperkuat koordinasi antara inventor, satker pengampu, dan mitra industri semakin solid demi kemajuan industri peternakan ayam kampung di Indonesia, tutup Jayu.