Rapat Perdana Dewan Redaksi, IJAS Bersiap Terbit Kembali
Bogor (15/9)— Indonesian Journal of Agricultural Science (IJAS) memasuki tahap penting dalam proses reaktivasi setelah sempat mengalami penghentian sementara aktivitas penerbitan sejak tahun 2022 sebagai dampak dari transformasi organisasi. Jurnal ilmiah IJAS kini menyiapkan edisi reborn yang ditargetkan terbit pada November atau Desember, sekaligus memperkuat kembali sistem pengelolaan dan proses editorialnya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH), Nuning Nugrahani, yang merupakan editorial officer IJAS, melanjutkan perjalanan pengelolaan sejak masih sebagai BPATP.
Nuning menyampaikan apresiasi mendalam kepada Dewan Redaksi IJAS lama yang sebagian besar berada di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dimana di tengah kesibukan sebagai peneliti tetap bersedia hadir pada pertemuan dan kembali menjadi Dewan Redaksi IJAS. Pasca transformasi organisasi, diakui bahwa untuk kembali meneguhkan tusi dan melibatkan SDM dalam kepakaran scientific tertentu, dan saat ini masih perlu penguatan yang tentunya dapat diperoleh dari pendampingan para senior redaktur terdahulu, jelasnya.
Adapun perkembangan reaktivasi pengelolaan IJAS disampaikan Nuning pada pertemuan perdana Editorial Team yakni Dewan Redaksi dan Redaksi Pelaksana yang sekaligus membahas kesiapan kelembagaan, sistem pengelolaan jurnal, penerimaan naskah, hingga status indeksasi IJAS di Scopus. Nuning menyampaikan bahwa aspek legalitas publikasi IJAS kini telah memperoleh landasan kelembagaan yang lebih kuat dimana sejak 26 Agustus, tugas publikasi secara resmi telah masuk dalam rincian tugas Tim kerja Layanan Pengelolaan dan Pemanfaatan BRMP PH. Sehingga dengan dasar ini, ke depan operasional pengelolaan dapat diikuti dengan dukungan alokasi anggaran, ujar Nuning.
Selain aspek kelembagaan, inisiasi aktifasi IJAS juga telah sampai pada pengelolaan DOI melalui kerja sama dengan Relawan Jurnal Indonesia (RJI) yang akan diampu oleh PSEKP sebagaimana prefix jurnal Balitbangtan dilanjutkan pengelolaannya. Dari sisi naskah, sejak pengumuman penerimaan artikel pada Juni lalu, telah masuk sejumlah 36 naskah, papar Nuning lagi.
Chief Editor IJAS, Dr. Ir. Markus Anda, M.S., menjelaskan bahwa dari puluhan naskah tersebut, sebanyak 10 berpotensi untuk masuk ke dalam tahapan review lanjutan. Ia menegaskan bahwa IJAS tetap mempertahankan standar akademik dengan hanya menerima artikel penelitian primer (primary research) yang ditulis dalam bahasa Inggris. Ketentuan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga kualitas dan karakter ilmiah jurnal. Dan hal ini dipastikan akan menjadi tinjauan untuk nanti bisa kembali menggunakan logo Elsevier, jelasnya.
Berkenaan dengan ini, Prof. (Riset) Dr. Ir. Supriadi, M.Sc., selaku yang menginisiator dan mengawal hingga IJAS bisa terindeks scopus sebelum hibernasi mengingatkan kembali berkenaan scope IJAS. Perlu penyelarasan scope dengan tusi BRMP, sehingga bisa mengakomodir bagian dari hasil perakitan, perekayasaan, standardisasi dan modernisasi pertanian, hasil pemikiran, kebijakan-kebijakan yang mendukung modernisasi pertanian, sebagaimana yang tercantum dalam SK Dewan Redaksi. Lainnya lagi, Prof. Supriadi menyampaikan untuk mulai kembali mempelajari regulasi akreditasi yang baru, agar IJAS tetap bisa mempertahankan status akreditasinya di tingkat nasional.
Dari sisi sistem pengelolaan, Slamet Sutriswanto, A.Md. pengelola IJAS terdahulu, telah melakukan pembaruan sistem Open Journal Systems (OJS) dari versi 2.8 ke OJS 3.5. Pembaruan ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan jurnal yang lebih modern dan efisien. Berangkat dari usulan beberapa dewan redakis yang hadir mengenai pentingnya arsip publikasi, Slamet menjelaskan bahwa pasca server Pusdatin Kementan terkena serangan siber, salah satu perkembangan penting dalam proses pemulihan sistem adalah keberhasilan menyelamatkan arsip publikasi lama mulai dari Volume 1 hingga terbitan tahun 2022. Pemulihan arsip tersebut menjadi bagian penting dalam proses reaktivasi, karena memungkinkan rekam jejak publikasi IJAS tetap terjaga sekaligus dapat diakses melalui sistem yang telah diperbarui, sebut Dr. Puji Lestari, S.P., M.Si., Ph.D. selaku salah satu Dewan Redaksi sekaligus Kepala OR Pertanian dan Pangan BRIN.
Hal penting lainnya yang dibahas dalam pertemuan koordinasi tersebut terkait penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam penulisan artikel sifatnya adalah terbatas. AI tidak diperbolehkan digunakan untuk menghasilkan substansi utama atau isi esensial penelitian. Penggunaannya hanya ditoleransi secara terbatas, dengan batas maksimal 20 persen, khusus untuk membantu perbaikan tata bahasa dan readability artikel berbahasa Inggris. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk tetap menjaga orisinalitas, integritas akademik, serta tanggung jawab ilmiah penulis terhadap isi artikel yang diterbitkan, jelas Markus.
Dukungan terhadap reaktivasi IJAS juga datang dari asosiasi profesi. Prof. Dr. Fahmuddin Agus, anggota Dewan Redaksi sekaligus perwakilan Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI). Ia juga akan mendorong para peneliti daerah melalui Komda untuk lebih aktif berkontribusi dengan mengirimkan hasil penelitian berkualitas. Keterlibatan peneliti dari berbagai daerah dinilai penting untuk memperkaya kontribusi ilmiah sekaligus memperkuat kembali posisi IJAS sebagai wadah publikasi hasil penelitian pertanian.
Salah satu perhatian utama dalam proses reaktivasi IJAS adalah status jurnal tersebut di Scopus. Markus menjelaskan bahwa status IJAS saat ini merupakan discontinuity, yang berkaitan dengan perubahan nama lembaga, bukan penutupan permanen jurnal. Nuning juga menyampaikan bahwa komunikasi dengan pihak Scopus terus dilakukan. Pengelola saat ini menunggu terbitnya edisi baru sebagai bukti bahwa aktivitas penerbitan IJAS telah kembali berjalan. Setelah penerbitan tersebut, status indeksasi IJAS diharapkan dapat dievaluasi kembali oleh Scopus.
Dengan dukungan kelembagaan yang semakin kuat, pembaruan sistem OJS, pemulihan arsip publikasi, serta kesiapan naskah yang telah memasuki proses editorial, IJAS kini berada pada tahap persiapan menuju penerbitan kembali. Reaktivasi IJAS ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mengembalikan marwah keilmiahan atau scientific organisasi baru Badan Perakitan dan Moderniasai Pertanian yang saat ini kembali memiliki tusi yang linier dengan litbang yakni perakitan dan ini juga sudah menjadi arahan yang tegas dari Kepala BRMP PH, tutup Nuning.