Reaktivasi Jurnal IJAS: BRMP Bersiap Rilis Terbitan Perdana Volume 23 Tahun Ini
Bogor (23/10/26)– Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) melalui Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP PH) kembali lagi mengadakan pertemuan lanjutan guna implementasi langkah strategis guna mengaktifkan kembali (reactivation) jurnal ilmiah internasional bergengsi, Indonesian Journal of Agricultural Science (IJAS). Setelah melewati masa transisi yang panjang, edisi perdana nantinya akan melanjutkan volume sebelumnya dengan terbitan Volume 24, No. 1 dengan target rilis secara resmi pada November-Desember 2026. Adapun pertemuan dengan nuansa diskusi dihadiri oleh Dewan Redaksi dan Redaksi Pelaksana IJAS yang berlangsung di Kantor BRMP PH, Bogor.
Sebagai pengantar diskusi, Nuning menyampaikan bahwa proses reaktivasi ini telah mendapatkan persetujuan resmi dari Kepala Badan melalui penetapan Surat Keputusan (SK) pengelolaan di bawah BRMP. "Memang proses mengaktifkan kembali IJAS adalah perjuangan panjang sejak periode transisi organisasi dari Balitbangtan, BSIP, dan saat ini BRMP. Jurnal IJAS adalah jurnal yang berpotensi, tidak hanya untuk menjaga kesinambungan publikasi ilmiah bertaraf internasional, tetapi juga nantinya dapat menjadi wadah pemenuhan kebutuhan publikasi para pejabat fungsional perekayasa di lingkungan BRMP agar memenuhi standar penilaian dan persyaratan dari BRIN," sebutnya.
Ketua Dewan Redaksi IJAS, Dr. Markus Anda, menegaskan bahwa proses ini merupakan keberlanjutan dari publikasi terdahulu yang telah mencapai Volume 23 No. 1 dan bukan membangun jurnal baru dari nol. Oleh karenanya, identitas jurnal dan nomor ISSN IJAS dipastikan tetap mengikat dan tidak berubah. Meski demikian, penguatan reputasi internasional akan menjadi fokus utama ke depan. Standar IJAS tetap perlu dijaga agar sejajar dengan jurnal internasional bereputasi. Salah satu strateginya adalah memperluas jaringan dewan redaksi dan mitra bestari (peer reviewers) dari luar negeri, seperti Canada, Australia, Thailand, dan Malaysia, jelas Dr. Markus. Selain itu, cakupan keilmuan (Focus and Scope) IJAS kini telah diperbarui untuk merespons perkembangan teknologi pertanian mutakhir, mencakup bidang genomics, biotechnology, hingga digital/smart agriculture, lanjutnya lagi.
Dalam rapat tersebut, dewan redaksi menyepakati penerapan pendekatan yang suportif dan fleksibel (friendly service) bagi para penulis selama masa transisi ini. Prof. Supriadi menjelaskan bahwa naskah yang memiliki substansi dan data memadai, namun masih terkendala dalam tata bahasa Inggris sebaiknya diarahkan dengan memberikan keputusan revisi minor (minor revision). Upayakan juga agar kita tetap memberikan pelayanan terbaik agar penulis termotivasi untuk segera memperbaiki naskahnya. Kekurangan minor pada aspek language improvement akan dibantu penyaringannya oleh tim internal sebelum naskah diteruskan ke reviewer internasional, kata Prof. Supriadi.
Rapat juga menetapkan aturan tegas terkait integritas ilmiah, salah satunya mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Sistem IJAS mengizinkan AI sebatas alat bantu perbaikan tata bahasa, namun melarang keras penggunaan AI sebagai penulis pendamping (co-author), perolehan data, maupun untuk menghasilkan isi naskah secara otomatis yang disepakati oleh seluruh Dewan Redaksi IJAS.
Dari kesiapan teknis, tim pengelola Open Journal System (OJS) yang dipimpin oleh Slamet Sutriswanto, AM.d. mendemonstrasikan pembaruan fitur dashboard OJS. Sistem kini telah dilengkapi dengan indikator tugas prioritas berwarna merah untuk mempercepat alur penelaahan naskah yang mencakup 5 tahapan utama.
Untuk meningkatkan tata kelola, IJAS juga mengonfirmasi integrasi, Nomorr Digital Object Identifier (DOI) yang berkolaborasi dengan PSEKP Kementerian Pertanian, jelas Nuning. Sebagai bentuk apresiasi, sistem OJS kini dikonfigurasi juga untuk menerbitkan e-sertifikat secara otomatis bagi para reviewer yang telah menyelesaikan tugasnya.
Nuning juga menyampaikan bahwa guna mendukung produktivitas, sudah tersedia fasilitas ruang redaktur kerja khusus di Lantai 2 bagi Dewan Redaksi yang ingin bekerja secara tatap muka maupun dengan sistem Work From Anywhere (WFA) di kantor. Saat ini, redaksi pelaksana sedang merapikan riwayat jurnal (Journal History) serta meninjau 41 naskah yang masuk di sistem OJS untuk disaring ke tahap penelaahan lebih lanjut. Diskusi yang dilakukan hari ini adalah diskusi yang sangat produktif, apa yang menjadi target untuk menerbitkan kembali IJAS semoga dapat tercapai dan status akreditasi serta indeksasi scopus bisa diraih kembali, tutupnya.