Temu Bisnis Horti: Ungkap Keinginan Asosiasi Perbenihan untuk Produksi Benih Horti Lokal
Bogor (11/11) – Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura pada rangkaian BRMP Agrifest 2025 melaksanakan Temu Bisnis bertema “Sinergi dan Kolaborasi Penguatan Sistem Perbenihan Hortikultura Menuju Swasembada Benih”. Persis di sesi kedua hari pertama pelaksanaan BRMP Agrifest 2025 di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Cimanggu Bogor ini dilaksanakan Temu Bisnis yang menghadirkan lebih dari 70an Asosiasi Perbenihan sektor hortikultura. Dr. Inti Pertiwi Nashwari, SP., M.Si. selaku Kepala Pusat BRMP Hortikultura yang didaulat menjadi moderator memantik diskusi dengan menyampaikan apa yang selama ini masih belum diketahui, baik oleh pihak industry perbenihan maupun oleh BRMP yang berlaku sebagai penyedia produk riset, jelasnya.
Diskusi ini menarik atas posisi keinginan masing-masing pihak untuk membuka peluang dan kebutuhannya. Termasuk mengenai pola kemitraan di sektor hortikultura disebutkan Nuning Nugrahani, selaku Kepala Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian saat didaulat oleh Ibu Kapus untuk menyampaikan berapa varietas yang sudah dikomersialisasi. Nuning menjelaskan bahwa sejak BPATP berdiri dari 4 varietas kentang yang dilisensi selama ini oleh beberapa perusahaan saja belum mampu memenuhi kebutuhan benih kentang yang berada diluar dari inti dan plasmanya. Nuning menjelaskan bahwa ada dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 2023 yang menyebutkan dengan jelas bahwa pola kemitraan untuk sektor hortikultura sudah sangat spesifik seperti inti-plasma, subkontrak, waralaba, perdagangan umum, distribusi keagenan, dan bentuk kemitraan lain. Nuning menyebutkan bahwa pola komersialisasi yang saat ini berjalan baru dengan memberikan lisensi bagi varietas yang ber-PVT. Kedepan ia sedang menjajagi peluang menggunakan mekanisme atau pola yang lain, jelasnya. Penjelasan Nuning ditanggapi positif dan diberi tambahan oleh Prof. Sobir dari IPB University agar tidak melulu mengenai keuntungan berupa uang. Oleh karenanya, diperjelas bahwa saat ini komersialisasi nol pun, sedang dalam penjajagan terutama untuk varietas yang telah public domain, sementara potensi pendayagunaan hasil dan penyebarluasannya masih tetap dibutuhkan, tambah Nuning.
Diskusi yang dilakukan selama 2,5 jam ini mengantarkan pada pemahaman akan perlunya dilakukan sosialisasi oleh kedua belah pihak, terutama berkaitan dengan pemahaman informasi dari masing-masing pihak yang memang harus dibuka ‘kuncinya’, jelasnya lagi. Disebutkan bahkan oleh salah satu peserta yang hadir yaitu PT. Bukitmas Agritech International yang bukan dari industry besar, bahwa Ia selama ini dengan perusahaannya benar-benar hanya memahami pasar. Sehingga niat besarnya dalam memproduksi varietas-varietas unggul milik Balitbangtan, murni dari upayanya membangun pasar, jelas Gede Deny. Ia menyebutkan bahwa ia melisensi 3 varietas milik BRMP Tanaman Sayuran dan juga memproduksi varietas public domain lainnya, tambahnya.
Diakhir diskusi, Ibu Kapus menegaskan bahwa hasil temu bisnis ini sudah dirumuskan dan pihaknya menegaskan bahwa apa yang didiskusikan akan menjadi tindak lanjut bagi Balai-balainya.