Antisipasi Kekeringan, Sinergi 2 Satker BRMP Terjunkan Geolistrik Untuk Petakan Sumber Air di Bekasi
Bekasi (8-9/10/26) – Kementerian Pertanian terus bergerak cepat mengamankan produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim global. Melalui sinergi antara Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian selaku Penanggung Jawab (PJ) Luas Tambah Tanam (LTT) Bekasi dengan Balai Perakitan dan Pengujian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian (BRMP Agroklimat) melaksanakan survei geolistrik terintegrasi di sejumlah wilayah pertanaman padi Kabupaten Bekasi.
Kegiatan yang berlangsung pada 8 -9 Oktober 2026 ini menyasar area pertanian di empat kecamatan krusial Kabupaten Bekasi, yaitu Kecamatan Tambelang, Sukawangi, Cikarang Timur, dan Kedungwaringin. Langkah ini diambil sebagai respons konkret atas laporan para penyuluh lapangan terkait menyusutnya air permukaan dan munculnya gejala retak tanah masif yang mengancam fase pertumbuhan tanaman hingga risiko gagal panen (puso).
Dalam pelaksanaan survei bawah permukaan ini, tim teknis BRMP Agroklimat, Anjas Bagus Prawira Napitu, A.Md, menyebukan pada survei ini menggunakan instrumen mutakhir AIDU ADMT-300SX-16D. Alat detektor air tanah canggih ini dilengkapi fitur Real-time 2D/3D Imaging berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini mampu memetakan lapisan batuan pembawa air (akuifer) hingga kedalaman 300 meter secara non-destruktif tanpa memerlukan bentangan kabel yang panjang. Kontras keberadaan air tanah langsung terbaca secara akurat lewat layar digital untuk meminimalisir kegagalan titik bor, jelasnya.
Berdasarkan hasil analisis hidrogeologi, kolaborasi tim yang terdiri dari BRMP PH, BRMP Agroklimat, dan didampingi Koordinator Penyuluh/Penyuluh berhasil mengidentifikasi potensi akuifer produktif di 8 lokasi Calon Petani Calon Lahan (CPCL). Seluruh titik potensial tersebut telah ditandai secara fisik menggunakan patok kayu di lapangan untuk memandu tim teknis saat pengeboran dimulai. Rekomendasi kedalaman efektif sumur dalam di tiap lokasi bervariasi antara 10 hingga 260 meter tergantung karakteristik batuan setempat, jelas Anjas lagi.
Disampaikan oleh Nuning Nugrahani, Kepala BRMP PH dan juga selaku PJ LTT di Kabupaten Bekasi saat menawarkan pendampingan survei ini, bahwa ke depan data ilmiah dari survei geolistrik ini berperan penting sebagai dokumen legalitas teknis dan administratif dalam pengajuan bantuan infrastruktur ke Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian ataupun juga memberikan kemudahan bagi petani yang ingin membuat sumur bor swadaya. Melalui kepastian pasokan air irigasi alternatif dari sumur dalam ini, semua unsur, tidak hanya pemerintah tapi juga petani, sebagaimana menjadi program pemerintah, optimistis adanya peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di wilayah target. Harapannya ada peningkatan dari IP 200 menjadi IP 250 bahkan IP 300. Dengan demikian, keberlanjutan perluasan areal tanam tetap terjaga demi mengamankan target swasembada pangan nasional secara jangka panjang, tegas Nuning.